Jumat, 11 Januari 2013

srah al insyirah


Tafsir Surat Al-Insyirah

Tafsir Surat Alam Nasyrah

1.  Bukankah kami Telah melapangkan untukmu dadamu?,
2.  Dan kami Telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
3.  Yang memberatkan punggungmu[1584]?
4.  Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu[1585],
5.  Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6.  Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
7.  Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain[1586],
8.  Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

[1584]  yang dimaksud dengan beban di sini ialah kesusahan-kesusahan yang diderita nabi Muhammad s.a.w. dalam menyampaikan risalah.
[1585]  meninggikan nama nabi Muhammad s.a.w di sini maksudnya ialah meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, menjadikan taat kepada nabi termasuk taat kepada Allah dan lain-lain.
[1586]  Maksudnya: sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) Telah selesai berdakwah Maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu Telah selesai mengerjakan urusan dunia Maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila Telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.

(Q.S. Alam Nasyrah 94 :1-8)


اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Bukankah Kami telah melapangkan bagimu dadamu?

Kalimat “melapangkan dada”, dalam bahasa Arab, biasanya digunakan untuk menggambarkan kelapangan dan kekuatan jiwa dalam berbuat atau berbicara. Karena itu, kalimat “melapangkan dada” pernah dipakai oleh nabi Musa a.s. saat akan menghadapi Fir’aun dalam bentuk do’a, Robbisyrohlii shadri wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatan min lisaani yafqahuu qaoli, artinya “Ya Allah lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, serta lepaskanlah kekakuan lidahku supaya mereka mengerti perkataanku.” (Q.S. 20: 25-27) . Ini mengandung makna bahwa nabi Musa a.s. memohon diberi kelapangan dan kekuatan jiwa saat menghadapi Fir’aun yang begitu zalim dan sangat besar kekuasaannya.

Berdasarkan hal ini, bisa kita tafsirkan bahwa ayat ini berbicara tentang “kelapangan dada” dalam arti bahwa Allah swt. telah memberikan kekuatan kepada Nabi saw. untuk menemukan kebenaran, kearifan, dan kelapangan hati untuk memaafkan kesalahan orang yang berbuat zalim kepadanya serta kekuatan dalam menghadapi gangguan-gangguan orang lain.

Abdullah bin Mas’ud pernah bertanya kepada Nabi saw., “Ya Rasulullah, apakah dada bisa menjadi lapang?” “Ya, dengan masuknya cahaya ke dalam hati!” Jawab Rasul. “Apakah untuk itu ada tandanya?” Rasulullah Saw menjawab, “Tanda-tanda masuknya cahaya tersebut ke dalam hati seseorang tercermin dalam sikapnya menjauhkan diri dari kehidupan dunia yang memperdaya, serta cenderung menjadikan tumpuan aktifitas kepada kehidupan yang abadi dan mempersiapkan diri untuk maut.”

Tanda kelapangan hati dalam keterangan ini bukan berarti meninggalkan dunia secara total, karena Allah swt. dengan tegas memerintahkan agar kita mencari dunia dan menggunakannya sebagai sarana untuk menggapai kebahagiaan akhirat (Q.S. Al Qashas 28: 77). Orang yang memiliki kelapangan dada adalah mereka yang menggunakan dunia hanya sebatas genggamannya, tidak diperbudak dunia. Dunia dijadikan sarana untuk berbekal demi kehidupan yang abadi di kampung akhirat.

Jadi, yang dimaksud dengan Bukankah Kami telah melapangkan bagimu dadamu adalah Allah swt. telah membukakan hati Nabi saw. untuk menerima cahaya ilahi sehingga beliau memiliki kearifan, mempunyai kelapangan hati untuk menghadapi berbagai kesulitan, serta memahami hakikat kehidupan. Ini merupakan modal yang sangat penting dalam mengarungi kehidupan. Siapapun yang memiliki hal ini, tentu akan merasakan keberuntungan dalam kehidupan dunia dan akhirat.

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ . اَلَّذِى أَنْقَضَ ظَهْرَكَ

Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, yang memberati punggungmu.

Kedua ayat ini mengisyaratkan bahwa Nabi saw. pernah merasakan beban yang sangat berat dalam kehidupan ini. Pertanyaannya, apa gerangan beban berat tersebut? Muhammad Abduh dalam tafsirnya menjelaskan bahwa beban yang berat itu adalah beban psikologis yang diakibatkan oleh keadaan umatnya yang diyakini beliau berada dalam jurang kebinasaan. Namun, saat itu beliau tidak tahu apa solusi yang tepat untuk memperbaiki keadaan masyarakatnya.

Pendapat ini cukup logis kalau kita mencermati kebiasaan Nabi saw. sebelum menerima wahyu. Sejarah mencatat, Nabi saw. sering menyendiri di gua Hira untuk berkontemplasi, merenung tentang keadaan masyarakatnya yang penuh kezaliman. Beliau berpikir keras mencari jalan keluar bagaimana menanggulangi keadaan masyarakat Arab yang penuh dengan kebejatan moral. Maka, di tengah menghadapi beban psikologis yang begitu berat, Allah swt. mengutus malaikat Jibril untuk memberikan wahyu kepadanya. Dengan wahyu Allahlah Nabi saw. mendapatkan pencerahan-pencerahan tentang bagaimana menanggulangi umat manusia yang diliputi kezaliman dan kebejatan moral.

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

Dan Kami kami tinggikan bagimu sebutanmu?
Ini merupakan penghargaan Allah swt. untuk Nabi saw. bahwa nama beliau akan selalu diucapkan selama bumi ini masih hidup. Prof. M. Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, hal 452 mengutip pendapat sejumlah pendapat para ulama tentang ketinggian penghargaan untuk Nabi saw. Katanya, ketinggian nama Nabi Muhammad saw. tercermin antara lain.

1. Ketetapan Tuhan untuk tidak menerima suatu pengakuan tentang keesaann-Nya kecuali berbarengan dengan pengakuan tentang kerasulan nabi Muhammad saw.
2. Digandengkannya nama Allah swt. dengan nama beliau dalam syahadat, azan, dan iqamah serta kewajiban taat kepadanya merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah swt.
3. Setiap nabi yang diutus telah mengikat janji dengan Tuhan untuk mempercayai dan membela nabi Muhammad saw. sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut. “Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) yang membenarkan apa yang ada padamu, nisacaya kamu sungguh-sungguh akan beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman:

 “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku yang demikian itu?” Mereka (para nabi) menjawab, “Kami mengakui…” (Q.S. Ali Imran 3:81)

Dalam kaitan ini, Nabi Saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya Musa a.s. masih hidup, dia tidak dapat mengelak dari mengikutiku”. (HR. Ahmad)

4. Dalam kitab-kitab suci sebelum Al Quran, tercantum nama dan sifat-sifat nabi Muhammad saw. Hal ini dapat terbaca dalam Kitab Perjanjian Lama, Kitab Ulangan 33 ayat 2: “… bahwa Tuhan telah datang dari Tursina dan telah terbit bagi mereka itu dari Seir, kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunuing Param”.

“Gunung Param”, menurut Kitab Perjanjian Lama, kitab Kejadian 21 ayat 21 adalah tempat putra Nabi Ibrahim, yaitu Ismail bersama ibunya, Hajar, memperoleh air Zamzam. Ini berarti bahwa tempat tersebut adalah kota Mekah. Dengan demikian, yang tercantum dalam Kitab Ulangan di atas mengisaratkan tiga tempat terpancarnya wahyu ilahi, yaitu: Tursina, tempat nabi Musa a.s., Seir, tempat Nabi Isa a.s., dan Mekkah, tempat nabi Muhammad saw. Sejarah membuktikan bahwa satu-satunya Nabi dari Mekah adalah beliau.

Demikian paling tidak empat fakta bahwa Allah swt. mengharumkan nama Nabi saw. sebagai gambaran penghargaan Allah swt. kepada beliau.

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا  . اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan.

Ustadz Muhammad Abduh dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini diawali dengan huruh fa (fa-inna ma’al ‘usri yusran) untuk menunjukkan adanya kaitan antara kedua keadaan tersebut, yaitu antara timbulnya kesulitan dan datangnya kemudahan. Digunakannya kala Al sebelum kata Usri dalam kalimat (fa-inna ma’al ‘usri yusran) memberikan makna umum, yaitu segala macam kesulitan. Misalnya kesulitan berupa kemiskinan, kelemahan, pengkhianatan, pokoknya apapun kesulitan yang biasa dijumpai dalam kehidupan.

Jenis kesulitan apapun pasti dapat ditanggulangi, sepanjang orang yang menghadapi kesulitan tersebut memiliki jiwa yang kuat untuk mencari solusinya, menggunakan akal pikiran semaksimal, mungkin serta berdoa dan tawakkal kepada Allah swt.


Ayat ini mengajarkan bahwa setiap menghadapi berbagai kesulitan, kita harus yakin bahwa akan ada penyelesaiannya, akan ada jalan keluarnya. Keyakinan ini merupakan energi yang sangat berharga untuk bisa menyelesaikan segala persoalan. Dari jiwa yang penuh optimis akan lahir kecerdasan dan kearifan. Karenanya Allah swt. menegaskan dengan kalimat yang berulang-ulang, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan”.

Pengulangan ini dimaksudkan agar kita benar-benar yakin bahwa saat menghadapi kesulitan, sesungguhnya pada waktu yang bersamaan kita pasti akan bisa menemukan solusinya asalkan kita memiliki jiwa yang kuat, berpikir keras, ikhtiar yang sungguh-sungguh dan maksimal, serta berdoa kepada Allah swt.

Haram hukumnya berputus asa saat menghadapi kesulitan sebab putus asa adalah karakternya orang-orang yang tidak bertuhan dan sesat.
tA$s% `tBur äÝuZø)tƒ `ÏB ÏpyJôm§ ÿ¾ÏmÎn/u žwÎ) šcq9!$žÒ9$# ÇÎÏÈ
“Tiada yang putus asa dari rahmat Allah keculi orang-orang yang sesat.” (Q.S. Al-Hijr 15:56)

Jadikanlah kesulitan sebagai media untuk mendewasakan karakter dan sikap. Selama kita hidup, pasti kita akan menghadapi berbagai ujian dan kesulitan. “Kami pasti akan menguji kamu dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa …” (Q.S. Al-Baqarah 2:155) Hadapi itu semua dengan kerja keras, berpikir cerdas, optimisme, dan doa. Ingatlah, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan”.

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

Maka apabila kamu telah selesai dari suatu amalan, maka besungguh-sungguhlah dalam mengerjakan amalan lainnya.

Subhanallah, indah sekali ayat ini. Setelah Allah swt. menjelaskan bahwa dalam setiap kesulitan itu ada kemudahan, dilanjutkan dengan arahan berikutnya yang sangat berharga, “Maka apabila kamu telah selesai dari suatu amalan, maka besungguh-sungguhlah dalam mengerjakan amalan lainnya”.

Ayat ini menyuruh agar kita dinamis, kita harus terus bergerak, kerja keras tanpa lelah, berpikir tanpa henti. Kita berpacu dengan waktu! Jatah usia makin menipis, jangan biarkan waktu yang kita miliki lewat dengan sia-sia, tanpa karya, tanpa aktifitas. Umar bin Khattab r.a. berpesan, “Aku benci melihat kalian tidak melakukan aktifitas yang menyangkut kehidupan dunia, tidak pula untuk kehidupan akhirat !”


وَاِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
Ayat terakhir ini diawali dengan huruf penghubung Wa (Wa ilaa rabbika farghab) Wa artinya “dan”. Kata penghubung ini menghubungkan ayat ke-7 ayat ke-8, “Fa-idza faraghta fanshab” Wa “ilaa rabbika farghab”. Pada ayat 7, Allah swt. memerintahkan agar kita melakukan kegiatan berikutnya setelah selesai dari suatu kegiatan. Sementara ayat 8, Allah swt. memerintahkan agar kita selalu berharap hanya kepada Allah. Ini mangandung makna bahwa seseorang harus selalu menghubungkan antara kesungguhan berusaha dengan harapan dan kecenderungan hati kepada Allah swt.


Kita tidak cukup sekedar berusaha sungguh-sungguh tapi juga harus membingkai usaha dengan doa dan berharap pada Allah swt. Usaha yang dibingkai dengan doa dan berharap pada Allah akan melahirkan jiwa syukur kalau kita sukses dan sabar kalau usaha itu gagal. Jadikanlah kegagalan sebagai guru untuk meraih kesuksesan yang lainnya. Semua usaha tidak ada yang sia-sia kalau dibingkai dengan mengharap rido Allah swt.
Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Wallahu A’lam.